Cerpen (Impian) ---- Arus Kehidupan

Arus Kehidupan

Kuawali pagi ini dengan lengkungan senyum dibibirku. Kukayuh pedal sepedaku menuju kampus bergengsi yang telah menerimaku. Pagi ini adalah pagi pertamaku memasuki dunia perkuliahan. Alam pun mendukungku untuk memulai hari. Langit nan cerah dan terbentangnya awan seolah memancarkan kecantikannya yang kuning bercahaya. Burung-burung terdengar riang bernyanyi dengan kicauan merdunya.

Namaku Bulan, mahasiswa baru di salah satu universitas musik terbaik di negaraku. Aku hanyalah mahasiswa biasa yang tidak mengetahui arti sesungguhnya dari bermimpi. Jika impianku menjadi nyata, akankah aku memahaminya? Apakah dengan itu hidupku akan berubah? Entalah, kepalaku terus berputar tiap kali memikirkannya. Namun, tanpa impian hidup ini tidak akan berarti. Jauh dari itu semua, aku mengetahui dengan jelas bahwa warna-warna dapat muncul beriringan dengan adanya suara. Ya, aku salah satu pengidap synaesthesia, dimana dapat mendengar suara sekaligus melihat lingkaran warna-warni yang ditimbulkan. Setiap warna yang timbul dari suara seseorang, dapat diproyeksikan dan ditafsirkan menjadi semacam emosi tertentu. Cukup unik bukan? 

***

Hari ini mahasiswa baru mengikuti ritual tahunan  ospek. Ritual yang melelahkan di sela canda tawa pengikutnya. Walaupun harus merasakan lelah akan tugas-tugas yang diberikan oleh panitia, apalagi jika dilakukan saat matahari seolah sedang memamerkan sinarnya, aku tetap menikmatinya karena itu semua hanya terjadi sekali seumur hidup bukan? Aku hanyalah mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan ekonomi sederhana. Pada awalnya, alasanku masuk di kampus ini karena berekspetasi untuk mengubah hidupku dengan sesuatu yang aku sukai. Menikmati warna-warni nada nan indah jika saling dipadukan melalui irama, membuatku bahagia.

Sebelum acara selesai, aku bertemu dengan gadis manis bernama Alana. Seorang gadis manis dengan nada berwarna kuning cerah, menunjukkan ia anak yang ceria. Aku bertemu dengannya dengan tidak sengaja, pada saat aku dihukum oleh panitia karena warna jilbab yang ku pakai salah. Satu hukuman pun telah usai, aku dan Alana pergi mencari makanan dan minuman untuk mengisi kembali energi kami. Namun, sebelum sampai di kantin, kami bertemu senior yang ternyata kenal dengan  Alana.

Ketika berbincang dengan senior, aku mendengar samar-samar suara yang indah. “Dari manakah asal suara itu?” tanyaku dalam hati sembari meninggalkan Alana yang sedang berbincang dengan senior.

“Bulan, mau pergi kemana? Bukankah kita akan ke kantin?” Alana memanggilku dengan suara cukup keras, namun aku tidak menghiraukannya dan sibuk mencari asal suara.

Aku terus mengikuti arah suara itu, namun belum menemukannya. Sampai akhirnya di ruangan cukup luas tempat latihan mahasiswa, aku terpesona akan karisma seorang pria berpenampilan rapi dan cukup tampan menurutku. Sayangnya hanya bisa ku lihat dari luar jendela karena aku tidak berani menyapanya.

Tiba-tiba Alana menghampiriku dan bertanya, “Kau kenapa Bulan? Apa ada yang salah disini?” melirik ke arahku dan mengerutkan kening seperti orang yang kebingungan. Tanganku menutupi mulut Alana. “Sssst, aku mendengar suara sesorang dengan nada sangat sopan masuk ke telingaku. Kau jangan berisik, nanti ketahuan”. Lalu aku mengajak Alana pergi dari tempat itu tanpa mengetahui siapa pemilik suara yang membuatku terpukau itu. Aku pulang dengan penuh penasaran tentang pria itu.

***

Pagiku terusik  mendengar keributan di rumah dan aku segera keluar kamar menuju toko. “Astaghfirullah! apa yang terjadi pada toko benatu kita, Bu?” Aku terkejut saat melihat keadaan toko benatu ibuku.

Toko kami terobrak abrik tidak karuan, mesin cuci pun ada yang rusak. Terlihat dua pria berbadan besar yang sedang berbicara dengan ibuku, yang tidak lain adalah penagih hutang. Ibu hanya bisa terdiam dan berusaha bernegosiasi dengan mereka. Ketakutan terlukis jelas di wajahnya, sampai akhirnya pria-pria yang berpenampilan garang itupun pergi meninggalkan kami dan memberi kami waktu satu bulan untuk melunasi semuanya.

“Bagaimana ini, Bu? Seharusnya aku tidak perlu mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kalau sudah begini kita harus bagaimana, Bu?” Wajahku terpenuhi rasa khawatir.

“Tidak Nak. Kau lanjutkan saja pendidikanmu, agar kau tidak menjadi seperti ibumu dan bisa melakukan kesukaanmu. Apalagi kau mempunyai bakat di bidang itu, setidaknya hidupmu nantinya bisa lebih baik dari ibu,” ucap ibuku sambil menitikkan air mata namun berusaha terlihat tegar.

Jika sudah begini, alangkah baiknya aku mulai bekerja sambilan sepulang kuliah, pikirku. Namun aku tidak mengatakannya pada ibuku. Ibu pasti khawatir dan tidak memberiku izin.

Tanpa sepengetahuan ibu, sepulang kuliah aku bekerja di sebuah caffe dengan bermain piano mengiringi lagu yang dimainkan. Gaji pertamaku semuanya ku berikan pada ibu untuk mencicil hutang-hutangnya. Ibu heran kemudian mencercaku dengan ribuan pertanyaan tentang asal uang itu. Aku menyerah dengan menjawab jujur semua pertanyaan itu. Ibu memelukku erat di tengah susana haru, dan berterima kasih serta meminta maaf kepadaku karena belum bisa menjadi orang tua yang baik untukku. Namun, bagiku ibu adalah satu-satunya orang terbaik yang ada dalam hidupku. Dari kejadian itu, aku mulai bertekat untuk mengubah kehidupan ku untuk membahagian satu-satunya malaikat yang ku punya.

Malam nan indah terdengar sayup-sayup suara jangkrik hingga memecah keheningan malam. Langit pun tampak bersedih, warnanya hitam mencekam menyongsong tangisannya yang disapu oleh angin. Menyegarkan pohon-pohon hijau yang siap mengeluarkan buah dengan warna dan rasa yang beraneka ragam. Kau tahu aura hujan berwarna biru segar? Saat mulai turun gemericik air menjadi biru muda seperti mutiara yang  membawa kedamaian hati.

***

Hari-hari berlalu begitu cepat hingga tak terasa sudah satu tahun menjadi mahasiswa. Hingga tiba saatnya untuk persiapan kompetisi piano nasional bulan depan. Sedari dulu aku sudah bersusah payah dalam mempersiapkannya. Namun, di tengah-tengah perjuanganku ada saja masalah yang ku alami. Di sini aku termasuk anak emas, hingga beberapa orang menganggapku hanya caper pada dosen. Padahal aku hanya melakukan yang seharusnya ku lakukan untuk mengejar mimpiku demi membahagiakan ibuku.

Geng yang diketuai Tanaya dengan dua temannya yaitu Laras dan Sadira, serta pacar Tanaya yaitu Brian yang selalu mengikuti kemauan Tanaya. Mereka merupakan orang-orang yang paling membenciku. Mereka sering merundungku. Namun, jika masih berupa ucapan akan ku anggap angin lalu saja.

Suatu ketika, perbuatan mereka sudah keterlaluan. Mereka menamparku dengan keras, “PLAK!”.

“Apa salahku hingga kalian berbuat sejauh ini?” tanyaku dengan nada cukup tinggi.

“Karena kau sudah merebut semua perhatian yang awalnya hanya untukku!” bentak Tanaya. Kemudian, Tanaya mengunciku di dalam kamar mandi. Bukan hanya itu, mereka bahkan melempariku sampah dan meninggalkanku di sana.

Perbuatan mereka sangat membuatku marah hingga aku melaporkannya pada pihak kampus. Akhirnya mereka di hukum dan jika mengulanginya akan dikeluarkan dari kampus ini. Mulai dari masalah itu, mereka tidak berani bertindak lagi. Namun, tidak dapat dipungkiri, mereka masih merundungku secara verbal. Salah satu hal baik yang dapat ku ambil dari kejadian ini, yaitu dipertemukan dengan dia, si pemilik suara indah yang dulu membuatku penasaran oleh harmonisasi warna yang dikeluarkan.

“Brmmm.” Terdengar suara motor di depan rumah. “Ah, apa kak Arka sudah sampai?” Ya, pemilik suara itu bernama Arka (Arka menjemput ku di rumah). Pria itu berhasil membuat hatiku melebur seperti logam.

“Hai Bulan, nanti mau nonton film apa?” tanya kak Arka sembari memasangkan helm ke kepalaku.

“Bagaimana jika kita menonton Aladdin saja kak?” tanyaku dengan riang.

“Baiklah tuan putri, kita lakukan semua yang kau mau hari ini” kedua ujung bibirnya pun terangkat dan tangannya mengusap kepalaku dengan lembut. Lalu aku membalasnya dengan senyuman malu-malu dan pipiku yang sepertinya sudah semerah tomat.

Seperti yang telah kalian duga, aku dan kak Arka pada akhirnya menjalin hubungan lebih dari sekedar adek tingkat dan kakak tingkat. Kalian tahu? Yang membantuku keluar dari kamar mandi adalah kak Arka. Kak Arka juga tahu bahwa dahulu aku mengintipnya saat sedang bernyanyi di ruang latihan. Sejak saat itu kak Arka juga mulai memperhatikanku. Dia juga lah yang membantuku melaporkan perudungku dengan merekam suara geng Tanaya saat kejadian itu. Entah dari mana ia mendapatkan rekaman suara itu, dia tidak menceritakannya padaku. Sudahlah, yang terpenting sekarang mungkin mereka sudah tidak berani merundungku lagi.

***

Aku pikir semua masalah telah selesai, namun tidak ku sangka aku berada dalam situasi ini. Wajahku kian memucat. Siapa yang telah melakukan hal sejahat ini padaku? Berkali-kali aku menampiknya namun tetap saja kecurigaan dan tudingan bahwa yang mencuri cincin Tanaya bukanlah diriku. Namun, tidak ada yang mempercayaiku. Aku semakin panik karena ayah Tanaya yang merupakan seorang jaksa membawa masalah ini ke ranah hukum. Aku hanya bisa menangis sembari berdo’a kepada-Nya, agar terbebaskan dari tuduhan ini. Tidak hanya itu, akibat kesalahpahaman ini, kak Arka mengajakku untuk putus. Entah apa yang dia pikirkan hingga tidak mempercayaiku.

Aku mengira semua ini memang ulah Tanaya yang dengan sengaja menjebakku. Namun, suara yang dikeluarkan Tanaya tidak berwarna hitam ataupun ungu, yang terlihat hanyalah warna merah yang menandakan kemurkaan. Aku pun kebingungan siapa pelaku sebenarnya.

Hampir satu minggu berlalu dan aku belum menemukan pelakunya. Alana satu-satunya teman dekatku yang selalu  menjulurkan tangan untuk membantuku, menghilang tanpa kabar. Keesokan harinya, aku tidak sengaja melihatnya bergerutu saat berada di kelas sendirian. Ia terlihat sangat senang.

Aku mendengar ia tertawa licik dan berkata, “Kena juga kau Bulan.” tak dapat ku percaya aura yang dikeluarkan Alana berwarna sangat gelap. Betapa bencinya dia terhadapku. Selama ini baik dihadapanku ternyata menusuk dari belakang. Aku mengambil ponsel di saku dan mulai merekamnya. Aku bertanya padanya, alasan apa yang mendasarinya berbuat seperti ini padaku.

Lalu Alana menjawab, “Karena Kak Arka, aku merasa iri padamu. Kau sudah menjadi anak emas di sini, kau berbakat, tapi kenapa harus bersama dengan kak Arka? Hidupmu terlalu sempurna! Berbeda denganku. Aku ingin kau kehilangan semua yang berharga bagimu.” Jelas Alana.

Aku telah merekam semua percakapan kita, dan setelah perdebatan ini aku pun membicarakannya dengan Tanaya. Sehingga aku bebas dari semua tuduhan yang selama ini menyerangku. Untuk menembus kesalahan Alana, ia pun di skorsing selama 2 minggu dan tidak boleh mengikuti kompetisi piano itu. padahal awalnya, aku ingin melakukannya juga dengan Alana. Ah, ya sudahlah.

Hari demi hari berlalu, hingga tiba saatnya hari kompetisi piano. Aku mengerahkan seluruh kemampuan yang ku punya. Akhirnya aku mendapatkan juara dua pada kompetisi ini. Terlihat kak Arka melambaikan tangan ke arahku dan menunjukkan ibu jarinya. Walaupun belum bisa mendapatkan juara pertama di kompetisi ini, setidaknya aku menjadi juara pertama di hati kak Arka. Namanya juga hidup, tidak semua yang telah direncanakan berjalan selaras dengan kenyataan.

***

Satu tahun telah berlalu, sekarang aku mungkin telah mengetahui arti sesungguhnya dari bermimpi. Keadaan dimana membutuhkan tekat dan keberanian untuk meraih apa yang kita impikan. Impian akan berpengaruh terhadap kehidupan dan dapat menembus langit, jika kita terus memperjuangkannya. Tidak semua yang telah kita usahakan sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Namun, kenyataan bahwa kau tidak berhenti berjalan hingga saat ini, sama pentingnya dengan hasil yang ingin kau capai.  Walaupun impianku menjadi pianis terkenal belum sepenuhnya tercapai, aku tidak berhenti melangkah untuk mewujudkannya. Helen Keller pernah berkata, “kau harus berjalan dengan penuh percaya diri ke arah impianmu.” Tidak peduli dengan apa yang kita temukan di ujung, kenyataanya kita sudah melakukan perjalanan yang indah dalam mempelajari kehidupan.




Bagaimana kesan dan pesan kalian? ditunggu saran dari kalian untuk bisa menulis lebih baik lagi. Terima kasih sudah membacanya sampai akhir😊 

Sampai jumpa dilain kesempatan😉 

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.



Ig: @nasyinca


0 Comments